HomeArtikelPengertian Filologi Menurut Para Ahli

Pengertian Filologi Menurut Para Ahli

-

Asshodiqiyah.id – Filologi dipandang sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang berupa tulisan tangan. Melalui karya-karya masa lampau yang berupa tulisan inilah khazanah kebudayaan dan pandangan hidup nenek moyang kita terungkap.

Sebab karya-karya inilah yang mengandung nilai-nilai luhur, pandangan hidup, gagasan dan cita-cita yang hendak disampaikan kepada generasi selanjutnya. Studi terhadap naskah-naskah lama akan dapat membuka tabir sejarah kebudayaan Indonesia lama yang beragam.

Isi naskah lama mencakup rentangan yang luas tentang kehidupan spiritual para pendahulu serta memberikan gambaran yang memadai tentang alam pikiran dan lingkungan hidupnya. Menggali warisan nenek moyang yang agung nilainya, itu perlu dalam rangka membina dan menghayati pandangan serta cita-cita yang menjadi pedoman hidup mereka .

Baried (1983:1) berpendapat bahwa filologi adalah suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan. Filologi sebagai disiplin ilmu berkaitan dengan karya masa lampau berupa tulisan.

Karya masa lampau ini dipelajari berdasarkan anggapan bahwa dalam peninggalan tersebut terkandung nilai-nilai yang masih relevan dengan masa kini. Banyak informasi yang berkaitan dengan masalah social budaya masa lampau yang tidak lagi dijumpai pada masa kini. Hal ini perlu dijelaskan agar dapat dipahami oleh masyarakat saat ini.

Didalam Islam filologi menjadi salah satu metodologi yang penting untuk mengungkap sejarah dan ajarannya, kita memahami adanya Teks pertama dalam islam yaitu A-Qur’an dan Hadis. Sedangkan teks kedua adalam pemahaman umat muslim terhadap teks pertama.

Teks kedua pun akan melahirkan teks ketiga, yaitu teks yang dipahami dari teks kedua dan seterusnya (Lutfi, 2016: 115). Hal itu menunjukkan bahwa islam tidak bisa lepas dari filologi yang memiliki sasaran dan objek kerja berupa naskah dan teks. Selain itu, penggalian bahasa juga merupakan suatu objek dalam kajian filologi (Kingsley, 2013: 3).

Kandungan isi manuskrip Nusantara sangat luas dan tidak terbatas pada kesusastraan saja, tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, politik kesultanan, resolusi konflik, adat istiadat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain (Said, 2016: 203).

Dengan demikian, karya-karya para ulama Nusantara dalam berbagai bidang keislaman akan terus terjaga otentitasnya dengan kajian filologi. Karya-kaya ulama Indonesia tersebut seperti Kyai Soleh Darat, Sunan Bonang, Syekh Hasyim Asy’ari dan K.H Ahmad Dahlan di tanah Jawa, Abdu Rauf Singkel, Nuruddin Al-Raniri, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Abdu Somad Al-Palembani di Sumatra, Syaikh Yusuf Al-Makasari di Sulawesi dan masih banyak lagi .

Salah satu contoh karya yang masih banyak digunakan adalah kitab Risalah Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menerangkan tentang aswaja, kitab karya Syeikh Hasyim Asy’ari tersebut masih menjadi pelajaran wajib di berbagai Pesantren Nusantara.

Syeikh Hasyim yang hidup pada 1287-1366 H karyanya bisa sampai kepada kita hingga abad ini yaitu 1440 H. Otentitas karya tersebut bisa terjaga dan sampai pada generasi berikutnya dengan kajian filologi, kita bisa saksikan betapa besar kontribusi kajian filologi terhadap keislaman Nusantara.

Oleh karena itu, dengan penelitian filologilah kekayaan intelektual islam tersebut bisa diungkap dan dijaga serta diberdayakan demi pengembangan studi keislaman. Banyaknya naskah-naskah islam di Nusantara menjadikan pentingnya kontribusi filologi untuk menjaga karya-karya asli para intelektual islam Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru