HomeArtikelMenolak Wahabi - KH. Muhammad Faqih Maskumambang

Menolak Wahabi – KH. Muhammad Faqih Maskumambang

-

Siapa Itu Wahabi atau Wahabiyah?

Wahabi atau wahabiyah adalah sebutan suatu komunitas yang dinisbatkan kepada pelopornya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab yang muncul di Najed sejak sekitar 250 tahun lalu atau pada abad ke 12 H./18 M.

Gerakan kelompok ini mencoba untuk melakukan pemurnian ajaran agama dengan semboyannya: kembali ke ajaran pokok Al-Qu’an dan Hadits. Dalam pendangan mereka, umat islam saat ini berada dalam kesesatan akidah yang parah, lantaran sangat mengagung-agungkan para auliya, menziarahi kuburan mereka serta melakukan hal-hal yang tidak ada dalam kitab suci, maupun ajaran nabi (melakukan bid’ah dalam agama).

Sebagai penegas identitas, kelompok ini menamakan diri mereka dengan sebutan “al-Muwahidun” yaitu sekelompok orang yang senantiasa berpegang teguh terhadap ajaran tauhid yang murni, secara terminologi, nama diri mereka ini sengaja digunakan untuk membedakan diri mereka dengan kelompok yang memang berada diluar komunitas mereka (non-wahabi).

Mereka menyebut orang yang diluar wahabi “Al-Musyrikun”. Tetapi terkadang mereka juga menjuluki diri mereka dengan sebutan “As-Salafiyyah” yaitu suatu paham yang secara akidah dan perbuatan mengikuti lelaku kaum Salafus Shaleh.

Mereka memaknai Salafus Shaleh ini terbatas hanya kepada ajaran Ibnu Hanbal, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu al-Qayyim, meskipun dengan mengambil pikiran secara partikular. Term terdahulu merumuskan lebih utuh tentang Salafus Shaleh yaitu mengandung semangat humanisme, dinamisasi bermadzhab, mencerminkan kematangan keilmuan islam dan tentu penuh nilai-nilai islam yang berarti tanpa semangat api takfirisme dan sekratarianisme.

Orang wahabi memiliki karakteristik dasar yang mereka sering mengkafirkan setiap orang yang secara akidah dan bermazhab berbeda dengan mereka, bahkan atas dasar ini mereka menghalalkan darah dan harta umat islam lainnya (non-wahabi).

Hal ini diformulasikan berdasarkan ajaran yang terdapat dalam kitab wahabi yaitu “kitab at-Tauhid” yang dikarang oleh Muhammad Abdul Wahab, dengan model pemikiran ala Ibnu Taimiyah.

Kitab tersebut menegaskan akidah tauhid adalah poros segala keimanan umat islam, yang mencakup tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah. Sedangkan dalam penerapan syariat Allah SWT. orang wahabi tidak mengimbanginya mengenai variable kontenks yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Baik itu variable yang meliputi konteks kebahasaan dari nash (as-siyaq al-lughawi), konteks kebudayaan (as-siyaq at-tsaqafi), meupun konteks realitas kekinian (as-siyaq al-waqi’i).

Sedangkan dalam perkembangnya doktrin Wahabi tak lepas dari peran penguasa yaitu dengan kekuasaan Ibnu Sa’ud. Sehingga dalam hal ini gerakan wahabi bermetaformosis justru kian mengabsahkan sikap karakternya yang bengis dengan golongan lain dengan cara memonopoli kebenaran agama dan tak jarang juga muncul tindakan kriminalisasi teologis.

Bantahan Atas Terjemahan Penukilan-Penukilan Yang Menyesatkan

Teks Penukilan dan Penerjemahan yang Menyesatkan

Qur’an Surat At-Taubat ayat 60 “Wa fi sabilillah”, sebagian ulama berkata bahwa kata “sabilillah” adalah kata yang bermakna umum. Sebagian pakar hukum islam (ulama fikih) memperbolehkan penyaluran zakat ke seluruh lini kebajikan seperti pengkafaan jenazah, pembangunan benteng, masjid, sekolah dan lain sebagainya.

Syeikh Muhammad Jamaluddin al-Qamisi Ad-Dimasyqi, cakupan makna “sabilillah” ini ada pada ranah kebahasaan dengan membatasi suatu kata yang umum hanya pada cakupan makna terpentingnya saja, bukan sebuah pembatasan pada seluruh kemungkinan penunjukan makna yang tercakup dalam kata yang umum tersebut.

Hal ini dikarenakan Ibnu al-Atsir dalam kitab ”an-Nihayah fi gharib al-Hadits wa al-atsar” pernah berkata bahwa segala amal perbuatan yang secara murni ditujukan kepada Allah SWT. termasuk vakupan makna “sabilillah”.

Al-Qur’an maupun Hadits yang mengatakan bahwa kata “sabilillah” harus selalu diinterprestasikan sebagai pejuang yang maju ke medan perang. Jika ditemui dalil yang mendukung pembatasan makna “sabilillah” seperti diatas, maka dipastikan bahwa makna itu hanya bersumber dari pendapat para ulama salaf yang tidak bisa digunakan sebagai dalil yang kuat (hujjah) dan tidak pula bersifat pasti (qath’i). sudah menjadi ketetapan bahwa kata umum harus dibiarkan tetap berada dalam fungsi keumumannya sampai ditemukan dalil yang kuat yang dapat membatasi fungsi keumumannya tersebut.

Motif (Tujuan) Penukilan dan Penerjemahan

Pertama, menyulut api kebencian umat dan menjauhkan mereka dari keyakinan kedua pengarang kitab tafsir (Tafsir al-Khazim dan Tafsir al-Munir). Sedangkan keduanya memiliki keyakinan yang sama dan disepakati oleh empat Imam Madzhab dan dilegitimasi kredibilitasnya oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kedua, mendorong umay Islam yang masih awam agar mereka sukarela mau mengikuti pemikiran bid’ah madzhab pemikiran Jamaluddin al-Qasimi ad-Dimasyqi yang merupakan pengikut Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi.

Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi seorang pendiri gerakan wahabi yang mengomandoi para pengikutnya untuk menafsirkan al-Qur’an dan mengamalkan pemahaman mereka sendiri atas ayat-ayat tersebut sedangkan mereka mayoritas belum mampu dan tidak masuk dalam kualifikasi ahli tafsir.

Penyimpangan Jamaluddin Ad-Dimasyqi

Penyimpangan Pertama – penuturan Jamaluddin tentang penafsiran kata “sabilillah” yang dinisbatkan kepada Ibnu al-Atsir (Hal 2 Alenia 1 bari akhir). Jika kata “sabilillah” ditetapkan keumuman cakupannya dalam hal ini, maka sama saja dengan membatalkan petunjuk ayat yang secara jelas telah menetapkan delapan golongan penerima zakat (ashnaf tsamaniyah).

Maka dari itu harus ada pembatasan yaitu dimaknai pejuan yang maju di medan perang. Dikuatkan dalam sebuah Hadits Nabi SAW. “Harta zakat tidak halal dibagikan kepada orang-orang yang kaya kecuali lima orang kaya.” (HR. Imam al-Baihaqi dan Abu Dawud). Yang diantara lima orang kaya ini adalah orang pejuang yang berangkat ke medan perang.

Kemunculan pendapat Jamaluddin itu berasal dari kekeliruannya dalam memahami isyarat kata “innama” di awal ayat yang menjelaskan delapan golongan. Kata “innama” ini berfaedah membatasi (Li al-Hashr) karena ia mengandung makna “ma’ nafi” (penafian), penunjukan maknanya adalah: “mash shadaqatuilla lil fuqara’I” (tidaklah zakat itu kecuali hanya boleh dibagikan kepada mereka yang fakir).

Penyimpangan Kedua – ­Jamaluddin mengungkapkan “Kata ”sabilillah” bukanlah senuah nash yang secara eksplisit merujuk pada makna perang. Bukan pula isyarat kebahasaan yang sudah jelas yang mengandung makna secara zhahir saja yaiut sama-sama bermakna perang.”

Sedangkan bagaimana bisa beliau mengungkapkan pernataa diatas padahal sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab “at-Tuhfah” banyak sekali pemakaian kata “sabilillah” dalam ayat-ayat al-Qur’an yang memang mengisyaratkan pada makna “perang”. Ditambah lago bahwa definisi “zhahir” menurut ulama ushul fikih adalah suatu kata apabila ia digunakan pada kata “sabilillah” maka hasilnya akan mengharuskan pengkhususan kata sabilillah  pada makna perang.

Penyimpangan Ketiga – kemudian pendapat Jamaluddin di halaman ke-dua alenia ke-dua dengan pendapat seperti ini Jamaluddin hendak mengatakan “Para ulama salaf yang berpendapat bahwa kata “sabilillah” hanya boleh ditafsirkan pada makna pejuang perang adalah pendapat rapung tidak ditopang oleh dalil nash al-Qur’an atau Hadits. Ulama Ahlus Sunnah dalam kaca mata ilmu bayan dikategorikan majaz mursal dengan dua pola penahapan, yaitu:

  • Kata “sabilillah” yang asalnya bermakna “suatu jalan (kebaikan) yang membawa pelakunya sampai kepada Allah SWT.” dimutlakkan pada makna perang. Ini masuk dalam pengamalan kaidah “pemutlakan makna yang umum kepada kata yang khusus”. Jadi, ketika kata “sabilillah” dimaknai perang maka makna ini dinamakan makna majazi.
  • Pengolahan kata “sabilillah” yang pada awalnya secara majazi bermakna perang lalu sekarang dikhususkan lagi dengan diarahkan kepada makna para pejuang yang berangkat ke medan perang. Pemutlakan yang terakhir ini dinamakan dengan majaz mursal yang masuk dalam pengamalan kaidah “pemutlakan sifat atau keadaan kepada tempatnya”. Hal ini lantaran perang adalah sebuah kadaan yang alami oleh para pejuang, sedangkan raga mereka adalah wahana manifestasi atau tempat berlangsungnya keadaan perang tersebut. Sehingga makna pada tahap kedua ini bisa juga disebut sebagai ungkapan majaz tsanawi.

Bagian Kedua

Perkara-Perkara Yang Menjadi Konsensus (Ijma’) Para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Penafsiran kata “sabilillah” yang Benar Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Dalam hal penafsiran kata “sabilillah” para imam madzhab empat telah sepakat memaknainya dengan “para tentara atau pejuang yang maju ke medan perang.” Adapun jika memasukkan makna nilai semisal “orang yang hendak pergi haji” dalam kata tersebut agar ia bisa menerima bagian sabilillah, maka dalam hal ini Imam Ahmad membolehkannya, tetapi ketiga imam lain melarangnya. Sementara pemaknaan kata “sabilillah” dengan yang selain “pejuang dan orang yang hendak pergi haji” semisal untuk membangun masjid dan pengkafanan jenazah, maka para imam madzhab empat telah sepakat untuk melarangnya, karena makna tersebut tidak sama dengan maksud sabilillah, sekalipun makna tersebut diakui bisa termuat dalam cakupan keumuman kata “sabilillah”, yaitu setiap jalan yang dapat mengantarkan seseorang Muslim kepada Allah SWT. akan tetapi kenyataannya, keumuman kata ini telah dikhususkan oleh Hadits Nabi SAW.

Tidak diperbolehkan Bertalkid selain kepada Madzhab Empat

Ketentuan semacam ini didasari oleh suatu alasan kuat bahwa selain madzhab empat tersebut, segala pendapat hukum yang dikeluarkan tidak dapat dijamin otentisitas kebenarannya, terlebih ketika pendapat-pendapat tersebut dirujukkan kepada sang pemilik pendapat asli yaitu ulama yang pertama kali mengeluarkan pendapat tersebut. Hal ini berbeda dengan eksistensi madzah empat yang dalam setiap transmisi pendapat-pendapat hukum yang dikeluarkannya, turun-temurun melalui jalur sanad yang kuat dan rapi, sehingga otentitas kebenarannya pun dapat terjamin.

Di dalam kitab “Bugyah al-Murtasyidin fi talkhis fatama ba’dh al-Aimmah al-Mutaakhirin” karya Sayyid Ba’lawi al-Khadhrami, ada sebuah rumus yang mengetengahkan bahwa Ibnu Shalah menukil pendapat mengenai ijma’ tentang tidak diperbolehkannya bertaklid kepada selain madzhab empat, meskipun hukum tersebut hanya diamalkan secara pribadi.

Penjelasan yang benar siapa itu sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Apabila dikatakan “Ahlus Sunnah wal Jama’ah” maka dikehendaki oleh kalimat tersebut adalah “mereka yang menganut paham Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi. Diantara kedua imam ini ditemukan sedikit perbedaan dalam beberapa masalah seperti masalah penciptaan alam, masalah pengecualian dalam persoalan iman dan lain sebagainya. Meski kedua imam ini memiliki perbedaan sudut pandang dalam menyikapi masalah-masalah iman, tetapi hal tersebut tidak berimplikasi kepada sikap paling menuduh sesat satu sama lain.

Adapun yang dimaksud dengan kata “sunnah” adalah meurujuk kepada perilaku Rasulullah SAW.  sementara yang dimaksud dengan kata “wal Jama’ah”adalah perilaku para sahabat Nabi.

Tiadanya Mujtahid Mutlak di zaman ini, apa yang harus dilakukan seorang Muslim?

Bagi siapa saja yang tidak mampu melakukan ijtihad mutlak, maka wajib baginya mengikuti seseorang yang mampu melakukannya. Yang dimaksud ijtihak mutlak adalah mencetuskan suatu hukum-hukum yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Hadits. sedangkan dalam kitab “Bugyah al-Murtasyidin” karya Sayyid al-Khadhrami, dikatakan bahwa asy-Syeikhani (Imam Nawawi dan Imam Rafi’i) telah mengemukakan sebuah pendapat bahwa para ulama saat ini memang lebih banyak jumlahnya dari pada jumlah ulama sebelumnya. Akan tetapi pada masa ini tidak ditemukan seorang mujtahid mutlak sekalipun. Pernyataan demikian ini ditegaskan lagi oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami yang menukil dari ulama ushul fikih yang mengatakan bahwa semenjak berakhirnya zaman Imam Syafi’I nyaris sudah tidak ditemukan lagi seorang mujtahid yang sampai pada derajat mustaqil (mutlak).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru