HomeKegiatan PondokPekan Taaruf Santri 2020, Sarana saling Mengenal di Pondok Pesantren Asshodiqiyah

Pekan Taaruf Santri 2020, Sarana saling Mengenal di Pondok Pesantren Asshodiqiyah

-

Asshodiqiyah.id – Pendidikan Islam memiliki banyak tafsiran yang menunjukkan, menentukan dan mendefinisikannya di dalam kelembagaan pendidikan di Indonesia. Secara umum Pendidikan Islam diesensikan pendidikan yang termuat di dalamnya mengenai ajaran iman, ilmu dan amal dalam totalitas teori dan praktik keislaman, manakala ketiga unsur tersebut dikembangkan secara harmonis.

Pondok Pesantren menjadi salah satu kelembagaan pendidikan islam tertua di Indonesia, secara historis waktu kemunculan kelembagaan pendidikan islam di Indonesia sangatlah beragam, hal ini sangat beriringan dengan banyaknya pendapat kedatangan Islam di Indonesia.

Sehingga perlu adanya titik temu antara berbagai pendapat tersebut dan disadari kedatangan Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah sama. Dengan demikian ada daerah yang lebih awal di datangi oleh islam dan ada pula yang lebih akhir, yang tidak dipungkiri berdirinya surau-surau maupun tempat peribadatan islam sekaligus sebagai lembaga pendidikan islam.

Abad 12/13 M. menjadi salah satu awal masa keemasan dari kegiatan penyebaran dan pengembangan dakwah yang semakin meningkat secara signifikan yang tersebar luas diberbagai daerah. Seiring dengan hal itu maka pendidikan islam semakin tersebar luas di berbagai kawasan Indonesia, terutama di daerah Sumatra dan Jawa.

Di jawa sendiri kelembagaan pendidikan islam diberi nama Pondok Pesantren, yang pertama kali didirikan beliau Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, yang kemudian dikembangkan lagi kelembagaan Pondok Pesantren oleh anaknya yaitu beliau Raden Ampel (Sunan Ampel).

Ia mendirikan pesantren di Kembang Kuning yang kemudian ia pindah ke Ampel Denta (Surabaya). Misi keagamaan dan pendidikan Sunan Ampel mencapai kesuksesan, sehingga beliau banyak dikenal oleh masyarakat Majapahit. Barulah kemudian bermunculan pesantren-pesantren baru yang didirikan oleh para santri dan putra beliau. Misalnya, pesantren Giri yang didirikan oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah dan pesantren Tuban oleh Sunan Bonang.

Kedudukan serta fungsi pesantren pada mulanya hanya sebagai alat Islamisasi yang sekaligus memadukan tiga unsur pendidikan, yakni: ibadah untuk menanamkan iman, tabligh untuk menyebarkan ilmu dan amal untuk terciptanya kegiatan kemasyarakatan yang madani dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan pondok pesantren pada zaman modern ini, banyak membantu dan memberikan petunjuk kepada masyarakat untuk keluar dari belenggu kebodohan serta ketidak pastian situasi dalam hingar bingar persoalan yang semakin kompleks yang tentu dengan ajaran islam.

Pondok Pesantren Asshodiqiyah Semarang, menjadi salah satu kelembagaan pendidikan islam yang senantiasa berkomitmen tinggi dalam menciptakan generasi-generasi penerus islam yang tak hanya cakap dalam keilmuan islam melainkan juga menguasai ilmu umum untuk dapat penjawab persoalan yang muncul di masyarakat, yang setiap tahunnya terus meningkatkan kualitas serta kuantitas dalam meregenerasi generasi muda.

Maka hingga pada tahun 2020 ini telah menerima peserta didik baru yang mana pada setiap tahunnya sebelum mulai pada kegiatan belajar mengajar secara formal di kelas maupun diniyyah para santri baru juga akan dihadapkan dengan Pekan Ta’aruf Santri untuk dapat menunjang pembelajaran lanjutannya nanti.

Pekan Ta’aruf Santri atau sering disebut PEKTAS ini menjadi ajang kegiatan tahunan santri putra putri Pondok Pesantren Asshodiqiyah yang merupakan ajang pengenalan pesantren kepada masyarakat pesantren baik bagi dia yang sudah lama menghirup udara pesantren maupun dia yang baru saja masuk pesantren, supaya mereka lebih mengenal lingkungan pesantren serta lebih menjiwai semangat pesantren dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dan tak lupa pula sebagai ajang membulatkan niat, tekat serta tujuan masuk kedalam pesantren. Di dalam PEKTAS ini terdapat banyak rangkaian acara untuk menunjang kualitas santri baru maupun lama.

Kamis, 22 Oktober 2020 yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional diselenggarakan upacara memperingati Hari Santri Nasional sekaligus penanda pembukaan kegiatan PEKTAS, kemudian pada esok harinya disusul dengan tiga rangkaian kegiatan seminar yaitu Seminar I tentang Kesehatan Gigi, Seminar II tentang Kesehatan Mental dan Seminar III tentang Peningkatan Literasi Digital dan Kemanusiaan melalui Power Point sebagai media pembelajaran santri, yang semuanya dilakukan dalam kurun waktu tiga hari berturut-turut.

Kemudian setelah rangkaian seminar tersebut selesai dilanjut pada malam harinya materi tentang Akhlaq Santri, selanjutnya materi tentang Aswaja An-Nahdliyah dan Ke-Asshodiqiyaha-an yang juga menghabiskan waktu selama tiga hari berturut-turut. Meskipun dengan begitu padatnya rangkaian kegiatan PEKTAS tersebut, segenap santri tetap melaksanakannya dengan khidmad dan penuh semangat mengingat pentingnya rangkaian tersebut untuk dapat menunjang kualitas masyarakat Pondok Pesantren Asshodiqiyah.

Hingga pada Sabtu, 30 Oktober 2020 telah sampailah dalam acara malam puncak PEKTAS 2020 yang di dalamnya ditampilkan rangkaian persembahan kreatifitas santri Pondok Pesantren Asshodiqiyah dalam kesenian maupun keterampilan lainnya yang juga bertujuan sebagai malam keakraban bagi seluruh santri lama maupaun baru. Malam PEKTAS 2020 sekaligus menjadi penanda berakhirnya kegiatan pekan ta’aruf santri dengan harapan setelah terselenggaranya kegiatan ini santri lebih faham dan mengenali diri mereka sendiri dan lingkungan pondok pesantren sehingga kemudian dapat melaksanakan ibadah menuntut ilmu dengan sebenar-benarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru